Resensi film “Nang Nak” (Thailand)

Sekali-kali pengen dong nonton film yang non-mainstream (maksudnya yang bukan hollywood, korea, apalagi bollywood), kebetulan kali ini tertarik dengan film ini, yang kebetulan lagi gratis di HOOQ.

Ringkasan(spoiler ALERT)

Film ini diangkat dari legenda thailand yang mengisahkan tentang seorang laki-laki yang hidup dengan hantu istrinya.

Ceritanya dimulai ketika si suami, sebut saja “Mak”, harus meninggalkan istrinya(“Nak”) yang sedang hamil untuk pergi ke medan perang siam-vietnam. Dari situ kita tau kalau setting film ini berlangsung pada penghujung abad 19 Masehi.

Sewaktu Mak di medan perang, Nak dengan setia menunggu, hingga suatu saat Nak melahirkan, namun sayang dia meninggal bersama bayinya saat melahirkan tanpa diketahui Mak, yang tengah dirawat di biara karena terluka parah.

Setelah lukanya sembuh, Mak pulang dan menjalani hidup dengan istrinya sebagaimana biasanya, tanpa dia sadari bahwa sebenarnya dia hidup dengan arwah istri dan anaknya.

Suatu ketika, teman lamanya berusaha mengingatkan Mak, namun dia malah marah dan tidak memperdulikannya, sampai satu saat dimana dia melihat langsung tangan istrinya yang memanjang sewaktu mengambil barang jatuh dari rumah panggung mereka.Mak yang ketakutan pergi ke biara, untuk mendapat ritual dari para biksu agar tidak didatangi Nak, Nak yang sudah tau kalau suaminya sudah tau kalau dia itu hantu mendatangi biara itu dan meminta Mak untuk kembali kepadanya.

Di tempat lain, para penduduk desa yang merasa diteror hantu Nak mendatangkan seorang dukun untuk mengusir Nak, dengan cara melubangi kening di tengkorak Nak, namun tidak berhasil, yang ada malah dia kerasukan arwah Nak dan membunuh dirinya sendiri. Akhirnya datanglah biksu dari biara tempat Mak dirawat waktu terluka di medan perang, dia melakukan ritual untuk berkomunikasi dengan arwah Nak, dan menyuruh Mak mengucapkan kata-kata perpisahan untuk Nak. Akhirnya arwah Nak pergi dengan tenang, dan Mak memutuskan untuk menjadi biksu sampai akhir khayatnya.

Resensi:

Jarang-jarang saya mau nonton film romantis seperti ini, tapi karena ada unsur horornya saya tertarik juga akhirnya untuk meluangkan hampir 2 jam nonton.

Pemainnya terasa sangat natural untuk settingan akhir abad 19, dan juga pemilihan pemeran wanita untuk Nak, yang mohon maap tidak terlalu cantik untuk standar sekarang, justru menjadikan film ini terasa romantis dan membumi, tidak seperti film-film percintaan lain yang terkesan picisan.

Film ini juga menyadarkan saya, kalau fear of unknown, entah itu hantu, ataupun alien, adalah universal di semua budaya, dan seperti di film horor indonesia,terutama zaman dulu, kalau kekuatan manusia baik fisik maupun rasionalitas tidak bisa mengalahkan ketakutan itu, maka manusia akan melawan dengan kepercayaan(belief), bahwa yang benar akan selalu menang, bahwa semua termasuk hantu adalah bagian dari alam semesta yang diciptakan oleh supreme being. Belief ini direpresentasikan oleh religion, yang dalam kasus film ini adalah para biksu.

Nilai: 3.5 out of 5.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *