See no evil, hear no evil, speak no evil

Akhir-akhir di tempat kerja saya terjadi perubahan pimpinan, dimana pimpinan lama yang dipegang oleh orang asing, digantikan oleh orang lokal.

Di masa-masa transisi ini saya melihat satu sisi kemanusiaan yang sangat menyedihkan menurut saya, dimana para bawahan dari pimpinan lama beramai-ramai menghujat dan menjelekan beliau untuk mengambil hati si pimpinan baru yang kebetulan juga tidak suka dengan si pemimpin lama ini.

Di satu sisi saya dapat memaklumi para bawahan ini, karena memang pimpinan lama ini, suka membentak-bentak orang dan tipe micro-manager, jujur saja saya juga kurang begitu sreg dengan tipe seperti itu karena saya merasa saya tidak mendapatkan kepercayaan dan perkembangan skill saya terhambat. Namun menurut saya beliau tetap ada sisi baiknya, salahsatunya yaitu mau ngurusin masalah staffnya ketika ada masalah, bukan hanya terima bersihnya saja.

Kalau dipikir-pikir para staff ini sudah memang sudah mendekati masa pensiun, jadi memang wajar saja kalau mereka mengambil jalan aman dengan tidak membantah pimpinan lama.Hanya saja ada rasa sedih juga, karena saya bisa melihat raw character teman teman kerja saya.

Dari situ saya merasa, kalau saya sebagai manusia harus punya personal moral policy dalam menjalani dinamika dunia kerja, supaya tidak terhanyut dan terbawa budaya dan karakter di tempat kerja.Policy itu saya kasih nama : hear no evil, see no evil, speak no evil and do no evil, intinya saya akan berusaha menjaga mata,telinga, ucapan dan tindakan saya supaya selalu mengarah ke hal-hal yang baik dan berguna buat sesama.

*all images are courtesy of google.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *